THE BROKEN CHAINS OF PHILOSOPHY

(Rantai Filsafat Yang Terputus)

oleh : Edi Setiawan

rantai-gajah-konsistensi-386x308

 

Tak bisa dipungkiri bahwa dunia keilmuan, dunia pendidikan diseluruh dunia mayoritas berkiblat kepada Amerika dan Eropa. Telusurilah sistem pendidikan yang ada di Indonesia, mayoritas sistem pendidikan yang dipakai mengacu kepada sistem barat. Sistem SKS (Satuan Kredit Semester) yang dipakai di Perguruan Tinggi merupakan sistem yang dulu dipakai di Amerika, meski sekarang sebenarnya di lingkungan akademik di Amerika sendiri sebagian sudah tidak memakainya lagi. Sistem Kompetisi (perlombaan), juara 1,2,3, ranking kelas merupakan serapan dari sistem yang ada di dunia barat pula. Berapa puluh tahun sudah sistem kompetisi diterapkan di Indonesia, barulah di tahun-tahun terakhir ini, sebagian sudah tidak lagi menggunakan sistem Kompetisi dan diganti dengan sistem Kompetensi (kesesuaian). Sudah sama-sama dimaklumi pula bahwa sumber keilmuan barat selalu disandarkan pada filsafat Yunani. Seolah-olah sumber keilmuan hanyalah berasal dari filsafat Yunani saja.

Coba kita buka lagi lembaran sejarah dunia. Ketika masa keemasan filsafat di Yunani, Athena dan Sparta, kurang lebih 600 tahun sebelum Masehi, mereka hanyalah bagian kecil dari dunia pada masa itu. Sedangkan kebudayaan Persi sudah maju pesat. Negri di Timur Tengah sebelumnya sudah menampakkan keindahan karya rakyatnya. Kita kenal Taman Gantung Babylonia, kita ingat istana Persi yang megah dengan budaya yang tinggi, kita ingat bangunan Piramida, dengan teknologi yang sampai sekarangpun belum diketahui dengan pasti cara pembuatannya, merupakan wujud nyata ketinggian ilmu di Timur Tengah jauh sebelum Yunani terkenal sebagai sumber filsafat. Seni tulis menulis ditemukan di Mesir kira-kira 4000 SM. Budaya bangsa Minos di Kreta, 2500 SM. Kode hukum Hammurabi, Raja Babilonia 2100 SM. Cina pada 2000 SM sudah mengembangkan keilmuan untuk membaca karakter melalui wajah yang disebut Ming Xiang. Thales yang sering disebut sebagai filosof awal di Yunani sebenarnya juga bukan dari Yunani, melainkan dari Iona, pantai barat Turki. Demikian juga dengan Anaximander murid Thales. Juga Heraclitus juga berasal dari Iona, tepatnya di Ephesus. Bahkan Phytagoraspun berasal dari Iona bukan dari Yunani. Rantai pertama dari sejarah filsafat yang terputus (atau sengaja dihapus ?) seolah-olah tak ada sumber filsafat lain selain dari Yunani.

Kemudian, marilah kita pikirkan sejenak. Benua Amerika baru ditemukan Columbus sekitar tahun 1517. Sebelumnya, penduduk asli adalah orang Indian yang masih dianggap kurang beradab. Eropa sendiri mengalami Dark Age, masa kegelapan sampai berkembangnya Islam di Andalusia, mereka belajar di kota Andalusia.

Dinasti Umayyah yang digantikan oleh dinasti Abbasiyah maju pesat ketika berpusat di Baghdad. Merupakan sentral keilmuan dunia pada masa itu (sekitar abad ke IX). Kita kenal nama al Kindi (873 M) orang pertama yang menulis filsafat dalam bahasa Arab. Muhammad ibn Musa al- Khawarizmi (830 M) menuliskan buku-buku matematika dan astronomi serta yang sampai sekarang dikenal adalah tentang al-Jabar.Omar Khayyam (1079M) beliau adalah ahli sastra dan ahli matematika. Ibnu Sina (Avicenna-980-1037M) ahli kedokteran dan filsafat. Filosof-filosof Islam yang oleh orang barat sering disebut dengan filsafat Arab, menjadi sentral pembelajaran bagi Eropa ketika Andalusia dikuasai oleh Islam. Salah satu tokoh besar dalam filsafat Islam adalah Ibnu Rushd (Averroes 1126-1198 M) di Kordova. Akhir abad ke XII awal abad ke XIII inilah kemudian kekuasaan Islam di Andalusia dikuasai oleh orang-orang Eropa (Nasrani). Mulailah para filosof yang berkemban adalah orang-orang Eropa yang kemudian perkembangan keilmuan dari Eropa inilah yang dibawa ke Amerika dan dari sini kemudian menyebar dan mempengaruhi seluruh dunia.

Rantai filsafat yang terputus (atau sengaja dihapus ?) yaitu berkembangnya filsafat Islam di Baghdad dan Andalusia jarang kita ketahui lagi kini. Yang kita kenal hanyalah kiblat keilmuan dari Amerika dan Eropa dan satu-satunya sumber filsafat seolah hanya dari Yunani saja.

Tak sadarkah kita, bahwa selama ini kita sudah dijajah dari sisi sejarah, budaya dan keilmuan ???

 

”Kapitalism is not dead ! Imperliasm is not dead but only dying” – Ir. Soekarno

 

 



 

PENGHALANG CAHAYA TUHAN

Oleh : Edi Setiawan

000927400_1466481822-tabby1

          Manusia mendapatkan anugrah dari Tuhan 2 macam cahaya yang sering ilmuwan barat disebut dengan GOD SPOT atau Cahaya Tuhan. Yang pertama adalah Cahaya Tuhan yang ada di Hati / Jantung, dan yang kedua adalah Cahaya Tuhan yang ada di Otak Kanan di Temporal Lobe. Di dalam kenyataannya, Cahaya Tuhan ini, baik yang ada di hati maupun yang ada di otak kanan terhalangi oleh banyak hal. Penghalang Cahaya Tuhan yang ada di hati, dihalangi oleh banyak hal yang lebih sering disebut para agamawan sebagai penyakit-penyakit hati seperti kesombongan, irihati, dengki, membangga-banggakan diri, rendah diri, dan lain sebagainya. Sedangkan penghalang Cahaya Tuhan yang ada di otak kanan bersumber kepada PRASANGKA NEGATIF, yang disebabkan karena berbagai sumber pula. Prasangka negatif bisa disebabkan dari apa yang kita baca, referensi-referensi yang pernah kita dapatkan, referensi yang pernah didapatkan oleh orang lain dan kemudian diinformasikan pada kita, dari pengalaman-pengalaman kita, dari pengalaman-pengalaman orang lain yang diinformasikan ke kita, dari persepsi kita atau yang disebut oleh Water Lippman sebagai The Picture in Our Head atau gambaran yang ada di dalam kepala kita yang disebabkan oleh Frame of Reference, referensi-referensi yang kita membingkai prasangka kita dan dari Field of Experience, pengalaman-pengalaman yang pernah kita alami.

Kalau manusia mengharapkan Power dari Cahaya Tuhan ini bisa memancar keluar dan mempengaruhi bawah sadar, mempengaruhi logika kita dan kemudian mempengaruhi tindakan kita, maka perlulah kita bongkar dan kita hilangkan penghalang-penghalang yang telah menghalangi cahaya Tuhan baik yang ada di hati maupun yang ada di pikiran kita. Proses pembelajaran untuk menghilangkan penghalang Cahaya Tuhan ini di dalam pelatihan UnICoM disebut dengan Mi’roj of Mind. Di dalam proses pembelajarannya, dilakukan dengan penyampaian materi secara dialog, simulasi-simulasi atau game-game dan terutama adalah dengan menggunakan proses relaksasi dan visualisasi. Metode relaksasi dan visualisasi ini merupakan suatu metoda supaya manusia bisa masuk ke alam bawah sadar dan sampai masuk ke area keruhanian. Dimulai dengan menutup mata, kemudian pikiran difokuskan ke pernafasan, dengan menarik nafas perlahan, keluar masuk udara secara perlahan melalui hidung kemudian tubuh dilemaskan dan setelah itu dilakukan visualisasi untuk berbagai keperluan menghilangkan penghalang Cahaya Tuhan.

Prinsip dari relaksasi adalah mengurangi kegiatan dari jasmani dan kalau memungkinkan adalah meminimalkan energi jasmani supaya power dari akal pikir yang keluar. Tetapi kemudian akal pikirpun diikat melalui konsentrasi fokus ke pengaturan nafas, sehingga gerakan pikiran yang biasanya sangat banyak dan sulit untuk dikendalikan bisa diikat atau difokuskan ke pengaturan nafas. Setelah jasmani dan akal pikir diminimalkan aktifitasnya, maka disitulah kita bisa berharap power ruhani yang keluar.

Metoda relaksasi ini dengan pengaturan nafas dan sekaligus visualisasi sekarang ini sudah cukup banyak yang memanfaatkan untuk meningkatkan keahlian fisik, dan juga dimanfaatkan untuk kesembuhan, bahkan sudah mulai dimanfaatkan untuk mengatur kejadian-kejadian yang diharapkan untuk kita alami. Dalam hal ini, di dalam pembelajaran Mi’roj of Mind, relaksasi dimanfaatkan untuk mengurangi dan menghilangkan penghalang dari cahaya Tuhan baik penghalang Cahaya Tuhan yang ada di hati maupun yang ada di pikiran.

Sederhananya, ketika seseorang sudah memproses untuk menghilangkan penyakit hati, maka Cahaya Tuhan yang ada di hati akan memancar keluar dan seandainya manusia bisa menghilangkan prasangka negative dan berubah selalu berprasangka positif, maka Cahaya Tuhan yang ada di akal pikir, otak kanan juga akan keluar powernya. Dan setelah itu lihatlah dan amati, maka hidup kita akan berubah menjadi lebih baik.

“Maka berprasangkalah yang baik dan bersihkan jiwa dari sifat-sifat yang tercela…”

 


 

KECERDASAN MANUSIA

oleh : Edi Setiawan 

kecerdasan

            Selama ini, dianggap manusia hanyalah memiliki satu macam kecerdasan saja yaitu kecerdasan intelektual. Sehingga ketika timbul pertanyaan manakah yang lebih cerdas antara Einstein dengan Mike Tyson ? jawaban umum tentu saja lebih cerdas Einsten. Marilah kita melihat lebih jauh lagi tentang kecerdasan manusia yang ternyata sekarang sudah ditemukan berbagai macam bentuk kecerdasan.

Yang pertama adalah IQ atau Intelligence Quotient yaitu kecerdasan Intelektual yang alatnya adalah bagian dari otak yang disebut Neocortex. Kurang lebih dikenalkan 100 tahun yang lalu dikenalkan oleh William Stern. Menurut penelitian, Kecerdasan Intelektual ini hanya menyumbang 5-10% bagi kesuksesan hidup. Kemudian kurang lebih 20 tahun yang lalu dikenalkan Multiple Intelligences (MI) oleh Howard Gardner seorang ahli pendidikan. Awal dari Multiple Intelligences ini berisikan tujuh kecerdasan yaitu : Kecerdasan Linguistik (kecerdasan berbahasa), Kecerdasan Matematika, Kecerdasan Spasial (ruang), Kecerdasan Kinestesis (gerak), Kecerdasan Musik, Kecerdasan Antarpribadi (people smart) dan Kecerdasan Interpribadi (self smart). Kecerdasan Bahasa menggunakan alat di otak yang disebut Wernick, Angular atau Broca dan kecerdasan matematika berpusat di otak kiri. Kecerdasan Spasial dan Kecerdasan Musik berpusat di otak sebelah kanan sedangkan Kecerdasan Kinestetis berpusat di daerah motorik (Gyrus Precental) dikulit otak, Kecerdasan Interpribadi dan Antarpribadi ditata pada Lobus Prefrontal dan Lobus temporal. Kemudian dalam perkembangannya, Multiple Intelligences ditambah dengan 3 macam kecerdasan lagi yakni Kecerdasan Naturalis, Kecerdasan Eksistensia dan Kecerdasan Spiritual. Nah, dari pemahaman tentang Multiple Intelligences inilah kita bisa menjawab sekarang, manakah yang lebih cerdas antara Einsten dengan Mike Tyson? Einsten lebih cerdas dari sisi Intelektual sedangkan Mike Tyson lebih cerdas dari sisi Kinestesis. Setelah itu dikenalkan istilah otak kiri-otak kanan oleh Roger Sperry.sa

Kecerdasan selanjutnya ditemukan yaitu Kecerdasan Emosional (EQ) Emotional Quotient yang menggunakan alat di otak yaitu di Limbic System. Dikenalkan oleh Daniel Goleman dari penemuan alam bawah sadar kognitif oleh Joseph Deloux. Setelah Kecerdasan Emosional ditemukan, yang bisa dikatakan terbaru adalah dimunculkannya Spiritual Intelligence.           Dikenalkan oleh Ian Marshal & Danah Zohar, teolog dan filosof dari Inggris tentang Osilasi 40hz yakni tentang kesadaran diri dalam otak. Sebelumnya telah diteliti oleh beberapa ilmuwan termasuk Ramachandran -penemu God Spot- bahkan Erich Fromm psikolog juga sudah menyatakan dan sebelumnya filosof Rene Descartes telah menyebutkan kelenjar pineal yg persis ditengah otak adalah tempat jiwa.

Kemunculan Kecerdasan Spiritual ini disebabkan karena beberapa penemuan yang berbasis pada otak manusia :

  1. Osilasi 40 Hz, ditemukan oleh Denis Pare dan Rudolpho Llinas dan dikembangkan oleh Danah Zohar.
  2. Penanda Somatik, oleh Antonio Damasio.
  3. Bawah Sadar Kognitif, ditemukan oleh Joseph deLoux dan dikembangkan menjadi EQ oleh Daniel Goleman dan Robert Cooper dengan konsep suara hati.
  4. God Spot, ditemukan oleh Michael Persinger dan Vilyanur Ramachandran, dikembangkan oleh Ary Ginanjar menjadi ESQ.

Menurut UnICoM Concept,

  1. Letak Spiritual Intelligence tidak di Otak saja melainkan juga di Qolbu (Jantung).
  1. Temporal Lobe yang ada di Otak kanan, hanyalah alat atau sarana yang dipakai untuk mengaktifkan God Spot, Kecerdasan Spiritual yang ada di otak.
  2. Jantung (Hati) inilah yang mesti dididik untuk mendapatkan Kecerdasan Spiritual sesungguhnya.

 

Kecerdasan Spiritual adalah Kemampuan untuk melakukan segala sesuatu yang memiliki nilai-nilai positif di mata Tuhan.

Untuk membangkitkan Kecerdasan Spiritual ini, diperlukan proses awal yaitu membersihkan hal-hal yang menghalangi memancarnya Cahaya Tuhan baik dari yang ada di otak maupun yang ada di hati yang sudah dijelaskan dalam tulisan sebelum ini, ”Penghalang Cahaya Tuhan”. Melalui serangkaian proses dalam pelatihan di UnICoM, maka Kecerdasan Spritual bisa ditingkatkan dan inilah jalan untuk membuka potensi manusia yang tak terbatas, dan rasakan manfaatnya baik didunia ini maupun diakherat nanti.

 


 

MANAGEMEN PERSEPSI

oleh : Edi Setiawan

1406290427899422946

Kurang lebih 20 tahun yang lalu, Roger Sperry mengenalkan istilah otak kiri dan otak kanan. Otak kiri merupakan alat untuk berpikir logis sedangkan otak kanan pada bagian temporal lobe adalah alat untuk memunculkan firasat, intuisi, bawah sadar, dll. Sebagaimana sudah dipahami, bahwa menurut konsep UnICoM, manusia terdiri dari jasmani, akal pikir logis, bawah sadar, ruhani, dan area ketuhanan. Sebagian besar orang lebih memperhatikan sisi jasmani manusia, sebagian lagi lebih memperhatikan sisi akal pikir logis manusia, dan sedikit orang memperhatikan masalah bawah sadar, lebih sedikit lagi orang-orang yang  masuk wilayah keruhanian terutama lagi lebih sedikit lagi orang yang masuk dalam kesadaran area ketuhanan. Semakin masuk ke dalam, semakin ”naik” kita, maka power akan semakin besar. Bukankah Tuhan adalah yang Maha Tinggi ? jika kita masuk ke dalam dan kemudian sampai masuk ke area ketuhanan, bukankah sama jika dikatakan kita menempuh perjalanan sampai naik ke titik puncak, dan itu artinya adalah masuk ke dalam diri kita sama dengan naik menuju ketinggian sang Maha. Sebab itulah benar jika ada yang mengatakan ”Barang siapa kenal dengan dirinya maka dia akan kenal dengan Tuhannya”. Inilah yang dipakai sebagai dasar filosofis dari UnICoM. UnICoM menggunakan huruf-huruf yang unik. ”U” nya besar, ”n” nya kecil, ”I” nya besar, ”C” nya besar dan ”o” nya kecil serta huruf ”M” nya besar, yang kalau di baca maka terbaca ”You and I See on Me”, ”Kamu dan saya sama-sama melihat ke dalam Diri” dan ”Barang siapa kenal dirinya maka dia akan kenal dengan Tuhannya”.

Mari sekarang kita melakukan perjalanan ”naik” dari alam jasmani naik ke dalam alam pikir. Berawal dari Persepsi, maka dimulailah perjalanan mengarungi alam pikir dalam diri ini.

”Persepsi” menurut Water Lippman tidak beda dengan ”The Picture in Our Head”, ”Gambaran yang ada di dalam benak kita” yang dipengaruhi oleh 2 hal. Satu adalah “Frame of Reference” atau Referensi-referensi yang pernah kita peroleh dan yang kedua adalah “Field of Experience”, pengalaman-pengalaman yang pernah kita dapatkan. Misalnya, seandainya kita pernah mendapatkan pengalaman buruk ketika gigi kita di tambal oleh dokter gigi, kita merasakan kesakitan saat gigi kita diperbaiki, maka untuk selanjutnya, karena kita sudah memiliki pengalaman seperti itu, maka seandainya kita kembali ke dokter gigi, persepsi kita akan memanggil kembali memori kita dan akan dikatakan oleh persepsi kita bahwa ke dokter gigi adalah sangat menyakitkan, maka itu menjadikan kitapun enggan ke dokter gigi. Persepsi juga dipengaruhi oleh referensi-referensi yang pernah kita baca. Seandainya kita pernah membaca bahwa pulau Bali itu indah, maka begitu kita dengar kata-kata ”Bali” diucapkan, maka langsung tergambar indahnya Bali itu di benak kita.

Persepsi tentang diri kita bisa diatur melalui tampilan kita, mulai ujung rambut, wajah melalui tata wajah, cara berpakaian, plus penambahan aksesorisnya, cara berjalan, cara duduk, cara berbicara, dll. Jadi kita bisa mengatur diri kita supaya kita dipersepsikan tertentu oleh orang lain. Misalkan kita ingin supaya orang lain melihat kita adalah seorang yang berpendidikan, pandai, suka membaca buku, dll, maka itu bisa kita siasati dengan menggunakan aksesoris kacamata. Sebab persepsi orang terhadap orang yang menggunakan kacamata, menurut referensi dan pengalaman umum, biasanya adalah orang yang suka membaca, atau orang pandai, atau orang berpendidikan, dll. Misalkan lagi, jika kita ingin orang lain melihat kita adalah orang yang baik, alim, berpengetahuan keagamaan yang tinggi, maka kita bisa saja mengenakan baju gamis, memakai sorban, membawa tasbih, dll. Betapa mudahnya persepsi seseorang itu diatur meski hanya dari cara kita berpakaian menjadikan kita harus mulai kritis dalam melihat orang lain.

”Jangan pernah menilai orang lain, hanya berdasar kepada penampilan luarnya saja”, tetapi apakah hal itu mudah untuk dilakukan ? ketika penelitian menunjukkan bahwa tidak sampai 10 detik pertama kita bertemu dengan seseorang, hanya melihat penampilan kita, seseorang sudah mengiyakan dalam hati atau menolak kita. Tidak salah jika dikatakan First Impression atau kesan pertama, itu benar-benar menggoda, alias, kesan pertama itulah yang membuat seseorang berkata iya atau tidak di dalam hatinya ketika orang tersebut bertemu dengan kita.

 


 

SUSAH dan SENANG itu CIPTAAN KITA

Oleh : Edi Setiawan

5529500a6ea83465588b4567

Jika di Jakarta ada banyak bom, itu sebenarnya tidak pernah jadi masalah, yang penting bom tersebut tidak meledak. Tidak berbeda juga, meskipun diluar banyak godaan, itu tidak pernah jadi masalah, yang penting adalah hati tidak tergoda. Meskipun diluar tidak ada godaan, tetapi jika di dalam hati kita tergoda, maka kitapun malah akan mencari-cari godaan.

 

Hati manusia merupakan sentral dari semuanya. Dari keinginan yang ada di dalam hati ini, akan mempengaruhi alam bawah sadar, dari alam bawah sadar, akan mempengaruhi akal pikir logika dan dari akal pikir logika ini, akan mempengaruhi tindakan dan perilaku kita. Hati manusia seringkali dipengaruhi oleh keadaan dan kejadian yang ada diluar diri kita. Karena banyak manusia yang begitu mudahnya terpengaruh oleh kejadian dari luar, maka seperti pepatah lama, ”kemana angin bertiup kesitu condongnya”. Misalnya saja jika kejadian diluar memancing amarah, maka hati kebanyakan orang juga akan ikut marah. Kalau kejadian diluar adalah kejadian yang menakutkan, maka kebanyakan orang juga akan takut. Kalau ada kejadian yang bisa menyebabkan orang sedih, maka kebanyakan orang juga akan sedih, kalau ada kejadian yang menyebabkan orang itu gembira, maka kebanyakan orang akan gembira. Itu disebabkan karena hati kebanyakan orang memang tidak stabil, sangat mudah terpengaruh dan sangat mudah dipengaruhi oleh sesuatu yang berasal dari luar.

 

Inilah yang sebenarnya terjadi. Susah dan senang sebenarnya ciptaan kita sendiri. Meski kejadian diluar tidak menyenangkan, bisa saja hati kita tidak terpancing amarah, asalkan hati tenang dan stabil. Meski kejadian diluar menggembirakan, tapi hati kita bisa jadi tidak terlalu gembira, asalkan hati tenang dan stabil. Meski kejadian di luar menyedihkan, tapi hati kita bisa jadi tidak sedih asalkan hati tenang dan stabil. Susah dan senang itu ciptaan kita sendiri. Ketenangan dan kestabilan hati inilah yang harus dilatih supaya kita tidak dipermainkan dengan segala macam kejadian di dunia ini.

 

Penjagaan ketenangan dan kestabilan hati ini bisa ditempuh melalui beberapa macam cara. Dari aspek jasmani manusia, hati bisa dibuat tenang dan stabil jika kebutuhan jasmani terpenuhi secara seimbang. Unsur-unsur yang dibutuhkan tubuh dipenuhi, maka akan menyebabkan ketenangan dan kestabilan hati. Akan timbul kondisi sehat bagi tubuh jasmani ini. Seandainya jasmani seseorang tidak mendapatkan unsur-unsur dalam jumlah yang dibutuhkan, maka akan timbullah penyakit dan tentu saja, akan semakin sulit menjaga ketenangan dan kestabilan hati yang disebabkan karena faktor jasmani ini. Seandainya kebutuhan akal pikir tidak terpenuhi, pendidikan kurang, penyaluran ide dalam akal pikir tidak didapatkan, dll, maka akan timbul ketidakseimbangan dalam akal pikir yang hal ini akan berakibat pada ketidaktenangan dan ketidakstabilan hati. Tetapi jika kebutuhan akal pikir terpenuhi, maka hati akan tenang dan stabil. Demikian juga jika kebutuhan hati terpenuhi, maka hati akan tenang dan stabil. Kebutuhan untuk dihargai, kebutuhan untuk diperhatikan, kebutuhan untuk disayang, kebutuhan untuk dicintai dan lain sebagainya.

 

Ketidak seimbangan baik jasmani, akal pikir maupun ruhani ini akan menyebabkan setiap orang mencari dan mencari terus untuk memenuhi keseimbangan ini. Inilah yang kemudian menyebabkan timbulnya kecondongan, keingingan, kebutuhan, harapan, dan menyebabkan semua manusia bergerak, berjuang, memimpikan segala sesuatunya untuk dimiliki, untuk mendapatkan apa yang diinginkan, sebagai bentuk pencarian keseimbangan yang abadi, ketenangan abadi, kestabilan abadi, yang di dalam istilah umum menjadi kata KEBAHAGIAAN.

 

Melalui pembelajaran dan pelatihan yang sudah disusun oleh Universal Communcation, maka pemenuhan keseimbangan untuk menuju ketenangan dan kestabilan hati itu menjadi mungkin tercapai.

 


 

RAPUHNYA KEBENARAN PIKIRAN

Oleh : Edi Setiawan

3010654874_b986463c00

            Pikiran kita cuma satu, tapi sudah berapa ribu persoalan masalah yang kita pikirkan? Pikiran kita yang  cuma satu ini, tapi sudah berapa juta problem yang kita pecahkan? Tetapi…pernahkah kita berpikir tentang pikiran itu sendiri? Benarkah pikiran itu ada di otak? Ataukah otak itu hanya sekedar alat dari pikiran? Benarkah tanpa otak kita tidak memiliki penglihatan, tidak punya pendengaran, tidak punya perasa? Benarkah tanpa otak kita tidak mampu berpikir?Benarkah tanpa otak kita tidak bisa mendapatkan penyelesaian? Benarkah yang dikatakan ilmuwan Barat kalau otak itulah sentral dari manusia? Benarkah “Karena kita berpikir kita ADA maka kitapun ADA” seperti yang dikatakan filsuf Yunani? dan seabrek pertanyaan yang dipikirkan oleh pikiran tentang pikiran itu sendiri.

Penelitian tentang otak sudah berkembang sedemikian hebatnya, tetapi sudahkah didapatkan sesuatu yang esensi? Ketika para peneliti menemukan bahwa Neocortex selalu berkembang dengan berkembangnya informasi yang kita dapat, dengan banyaknya pembelajaran yang kita dapatkan, menunjukkan otak yang selalu terus bertambah dan berubah. Kemudian penelitipun menemukan letak di bagian otak yang mana ketika seseorang berpikir. Ketika otak berpikir tentang bahasa, maka bagian tertentulah yang aktif dan tidak seluruhnya, ketika otak digunakan untuk berpikir hal-hal yang matematis, maka bagian otak tertentu pula yang aktif. Setiap bagian dari otak manusia memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Setiap pembelajaran akan menambah jaringan syaraf pada neuron-neuron di dalam otak kita. Semakin banyak yang kita pelajari, semakin banyak pula jaringan syaraf pada otak kita. Pada orang dewasa bahkan bukan hanya ribuan, bukan hanya jutaan, tapi milyaran syaraf halus yang ada dan masing-masing syaraf membawa informasinya sendiri-sendiri. Bagian pembelajaran yang sering kita ulang, akan memperkuat jaringan syaraf kita pada bagian yang menyimpan memori tentang informasi itu. Semakin sering sesuatu itu kita pikirkan, jaringan syaraf yang membentuk memori kita akan semakin kuat dan semakin mudah untuk mengingat kembali apa yang sudah kita pelajari. Semakin kuat jalur syaraf kita untuk mengingat sesuatu karena kita biasa melakukannya, maka disitulah kita merasakan kemudahan untuk mengeluarkan memori kita dan kemudahan ini yang membuat kita “merasa telah berpikir yang benar”. Padahal yang terjadi hanyalah karena kita terbiasa menggunakan alur pikir yang itu. Inilah yang sering kali menipu keyakinan kita. Kita menganggap sesuatu itu benar karena kita terbiasa menggunakan cara berpikir itu. Benarlah apa yang dikatakan menteri penerangan Jerman di perang dunia ke II, bahwa “Kebenaran adalah 62.000 kali kebohongan”, artinya, suatu kebohongan yang terus kita ulang-ulang di dalam pikiran kita, maka satu waktu nanti pikiran kita akan terbiasa dan selanjutnya kita akan menganggap bahwa apa yang kita pikirkan itu adalah sebuah KEBENARAN. Betapa rapuhnya sebuah kebenaran yang disebabkan hasil pembiasaan dari pikiran.

Kalau dulu yang disebut wanita cantik Indonesia adalah yang berkulit kuning langsat, dan yang seksi adalah yang bertubuh molek (agak gemuk), maka ketika pikiran kita mendapatkan “pembelajaran” dari iklan setiap hari dan hampir setiap waktu, maka sekarang kita menganggap (dan ini kita yakini benar) bahwa wanita Indonesia yang cantik adalah yang berkulit putih dan yang seksi adalah yang bertubuh langsing (kurus). Konstruksi sosial seperti ini yang diakibatkan oleh iklan menyebabkan alur berpikir kita menjadi tertentu, dan menyebabkan terbentuknya jaringan syaraf yang kuat yang menyimpan memori bahwa wanita Indonesia yang cantik memang yang berkulit putih dan yang seksi memang yang bertubuh langsing, dan selanjutnya inilah yang kita YAKINI BENAR. Betapa rapuhnya kebenaran pikiran. Tetapi tak bisa diingkari kenyataannya, sudah berapa puluh ribu keyakinan kita didasarkan pada kebiasaan dari cara kita berpikir kita yang dipengaruhi oleh informasi dari luar yang berulang-ulang ini.

Maka mulailah dengan pertanyaan WHY, untuk mempertanyakan segala sesuatu yang sudah mapan. Mulailah bertanya MENGAPA untuk mempertanyakan kebenaran semu yang selama ini sudah kita yakini agar kita memperoleh jalan untuk menuju kebenaran yang sejati..

 


 

KEAJAIBAN BAWAH SADAR

Oleh: Edi Setiawan

cara kerja pikiran bawah sadar

          Lapisan-lapisan atau boleh disebut level-level kedalaman dalam diri manusia, mulai lapisan jasmani, akal piker logis, bawah sadar, terus masuk ke area ruhani dan semakin dalam masuk anda akan menemui area ketuhanan. Sekarang marilah kita membicarakan tentang bawah sadar dan keajaiban-keajaiban yang ada di area ini.

Semua benda yang ada di dunia ini, sebelum ada di dunia, maka semuanya ada di dalam alam ide. Semuanya !. di alam persepsi, yang ketika masuk ke dalam sebagian orang menyebut dengan alam beta, alam alfa, alam delta dan alam gamma, apapun istilahnya, melainkan itulah area alam persepsi, alam bawah sadar, alam ide, dan lain sebagainya istilah. Tetapi pernahkah kita sadari, bagaimana seandainya apa saja yang kita bayangkan selama ini, itulah yang akan terjadi pada diri kita ??!

Salah seorang karyawan menginginkan gajinya dinaikkan oleh perusahaan. Kemudian setiap malam, dia membayangkan dipanggil oleh bosnya, dan dibayangkan pula ketika dia dipanggil oleh bosnya, dia diberitahu bahwa gajinya akan dinaikkan. Dua minggu secara terus menerus gambaran itu yang divisualisasikan setiap malamnya dan kemudian satu waktu dia terkejut ketika sedang antri makan siang, bos memanggilnya. Hatinya berdebar kencang,”Jangan-jangan benar-benar gajiku akan dinaikkan ?”, dan ketika kemudian dia masuk keruangan besar, benar saja apa yang dikuatirkannya. Bosnya memberitahukan kepadanya bahwa gajinya dinaikkan. Sejak saat itu dia melatih dirinya dengan visualisasi positif dan bukan hanya pikiran postif yang hanya berhenti di area akal pikir logis, melainkan masuk ke bawah sadar. Kekuatiran kegagalan diubah olehnya menjadi kuatir sukses…

Di Amerika pernah dilakukan penelitian, 3 tim pebasket. Yang satu Tim dibolehkan berlatih secara fisik selama 2 minggu, satu Tim lainnya tidak boleh berlatih selama 2 minggu dan 1 Tim yang terakhir hanya boleh berlati membayangkan saja. Keunikan terjadi ketika diadakan pertandingan basket diantara ketiga Tim tersebut, yang memenangkan pertandingan adalah Tim yang hanya berlatih membayangkan saja. Mungkin kita heran, tetapi ketika kita mendalami lebih jauh, kita tahu bahwa ketika orang berlatih membayangkan, maka jasmani tidak lagi menghalangi dia di dalam bervisualisasi. Seandainya dia membayangkan meloncat, tentu saja loncatan di dalam bayangan lebih tinggi dari pada loncatan sesungguhnya karena loncatan di bayangan tidak terhambat dengan fisik, jasmani orang tersebut. Berbeda dengan orang yang berlatih secara fisik, maka ketika mereka berlatih, fisik jasmani mereka sudah menghalangi kemampuan mereka sendiri. Oleh sebab itu, sudah banyak para atlet seperti atlet golf, atlet sepakbola dan lain sebagainya, mereka kemudian mengembangkan pelatihan melalui membayangkan dan masuk dalam bawah sadar ini.

Alam pikir kita tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak nyata. Maka gambaran bayangan di dalam alam persepsi atau di dalam bawah sadar kita, meskipun itu Cuma bayangan saja, akan direspon oleh akal pikir sebagai sesuatu hal yang nyata.

Maka berhati-hatilah di dalam berpikir, di dalam membayangkan sesuatu, di dalam berprasangka sesuatu. Selalulah berprasangka yang baik dan positif, maka Law Of Attraction akan berlaku, alam akan bergerak memenuhi apa yang ada dalam gambaran bawah sadar anda.

 


 

MENINGKATKAN KEMAMPUAN AKAL PIKIR

oleh :Edi Seiawan

akal

Akal Pikir merupakan power manusia yang luar biasa. Sayang sekali sampai sekarang ini belum digali secara maksimal. Secara sederhana, maka bisa dikategorikan menjadi 2. Satu Akal Pikir yang logis, ilmiah, runtut, rinci dengan alat yang digunakan adalah otak kiri dan yang kedua adalah Akal Pikir yang non logis, non ilmiah, tidak urut, seperti firasat, intuisi, dan lain sebagainya dengan menggunakan alat yaitu otak kanan. Menurut penelitian para ahli tepatnya dengan menggunakan bagian Temporal Lobe yang ada di otak kanan.

 

Sejak kecil, bayi yang baru lahir mengalami proses perkembangan syaraf-syaraf yang ada di otak. Sehingga pada waktu itu mereka lebih banyak menggunakan otak kanannya dibandingkan dengan menggunakan otak kiri. Bayi lebih banyak menggunakan bawah sadarnya, firasat, intusi dan lainnya, sedangkan untuk akal pikir logis, belumlah banyak digunakan. Maka sungguh tepat jika kemudian anak-anak balita mendapatkan pembelajaran seperti musik, melukis atau menggambar, mengarang yang kesemuanya itu melatih penggunaan otak kanan dan mengembangkan kemampuan bawah sadar dari anak-anak. Secara signifikan kemudian pembelajaran mereka sejak SD, SMP, SMA dan seterusnya lebih kepada melatih penggunaan dari otak kiri yang berarti logika mulai diberi pembelajaran, ilmiah, runtut, dan lain sebagainya. Di satu sisi hal ini menimbulkan ketidak seimbangan pembelajaran bagi otak. Disebabkan karena sering dan kuatnya pembelajaran dari sisi logika dibandingkan dengan penegmbangan otak kanan, maka secara signifikan pula penggunaan dan pembelajaran bagi otak kanan menjadi berkurang sehingga kemampuan otak kanan semakin lama semakin dikalahkan dengan penggunaan otak kiri. Hal ini berdampak kepada pengurangan kreatifitas pada diri mereka, pengurangan kemampuan berfirasat dan berintuisi dan lain sebagainya yang merupakan kemampuan dari otak kanan. Idealnya tentu saja, pembelajaran baik untuk otak kiri maupun otak kanan berkembang sejalan, sehingga dengan cara seperti itu, potensi dari otak kiri dan otak kanan bisa dimaksimalkan.

 

Konsep Universal Communication mengajarkan kepada kita semua untuk pelatihan baikpun untuk mengembangkan kemampuan otak kiri dan juga untuk mengembangkan otak kanan. Salah satu program pelatihan yang disebut sebagai ”Transformational Thinking” melatih otak kita melalui pelatihan Berpikir Bebas, yang tidak hanya menggunakan dan menggali dari memori yang ada di otak saja, kemudian Berpikir Lateral, yaitu melatih penggunaan cara berpikir yang melompat dan tidak runtut, Berpikir Kreatif, untuk mengembangkan kemampuan bawah sadar dan memunculkan pikiran kreatif, dan sampai kepada memerdekakan pikiran dari jerat dan kebiasaan yang sudah puluhan tahun kita pakai di dalam cara berpikir. Tidak hanya itu, melainkan juga bagaimana melatih supaya kita memiliki cara berpikir yang bermacam-macam, dan juga bagaimana supaya kita bisa memahami cara berpikirnya orang lain. Semua bentuk pembelajaran dan pelatihan ini benar-benar mampu merubah cara berpikir kita yang selama ini sudah terpola dengan pola-pola yang tertentu.

 

Bayangkan kalau kita bisa melatih pola berpikir kita seperti itu, maka kita akan mudah memahami ilmu apa saja di dunia ini, kita akan mudah menemukan ide-ide baru, kita tidak lagi terbawa kesedihan yang terlalu dan kegembiraan yang terlalu dan berbagai macam perasaan yang selama ini disebabkan karena pengaruh pikiran kita.

 

Kegagalan yang kita alami selama ini salah satunya disebabkan karena kesalahan kita di dalam cara berpikir. Kalau anda berpikir anda tidak bisa berhasil, anda benar.,dan andapun tidak akan berhasil. Kalau anda berpikir anda bisa berhasil, andapun benar, maka anda akan berhasil. Pengaruh pikiran pada keyakinan dan pada kejadian yang akan menimpa anda, akan memicu alam bergerak memenuhinya. Maka mulailah berpikir yang benar !

 

Setelah Akal  Pikir anda merdeka, maka pintu gerbang kekuatan dan keajaiban dari Bawah Sadar akan menanti anda…..dan lihatlah, alam akan bergerak sesuai yang anda inginkan….

 


KEINGINAN YANG MENGGERAKKAN

Oleh : Edi Setiawan

knnowlage

Manusia merupakan wujud utuh jasmani, akal pikir dan ruhani. Jasmani merupakan miniatur dari alam semesta. Apapun yang ada dijagad raya alam semesta ini, ada di dalam diri manusia. Semua unsur-unsur yang sudah ditemukan para ahli yang tercatat dalam  sistem periodik seperti Helium, Lithium, Natrium, Kalium, Fosfor dan lain sebagainya, maupun yang belum ditemukan, ada semua dalam diri jasmani manusia. Sebagian ilmuwan menyampaikan sebagai contoh unsur fosfor dalam diri orang dewasa normal, apabila dipakai sebagai bahan korek api batangan, bisa dipakai untuk 2000 batang korek api. Kalau di alam semesta ada matahari, di dalam diri manusia ada juga yang berfungsi seperti matahari yaitu jantung. Kalau di alam ada bulan, di dalam diri manusi juga yang seperti bulan yaitu akal pikir manusia. Kalau di alam ada sungai-sungai yang mengalir, dalam diri manusiapun ada juga sungai-sungai darah yang mengalir. Kalau di alam ada tumbuh-tumbuhan, di dalam diri manusia juga ada tumbuh-tumbuhannya. Kalau di alam ada hewan-hewan, di dalam diri manusia pun ada sifat-sifat hewan. Apa saja yang ada di jagad raya alam semesta ini, di dalam diri manusia juga ada sebab manusia adalah miniatur dari alam ini.

Setiap bagian dari diri manusia, apakah itu jasmani, akal pikir maupun ruhani masing-masing memiliki keinginan sendiri-sendiri yang berbeda-beda. Jasmani memiliki keinginan sendiri untuk dipuaskan, akal pikir memiliki keinginannya sendiri untuk dipuaskan, ruhanipun memiliki keinginannya sendiri untuk dipuaskan. Contoh jika manusia memiliki keinginan akan makanan, minuman, maka itu adalah keinginan jasmani karena jasmani membutuhkan makanan itu. Jika manusia memiliki kecondongan pada emas, itu disebabkan karena dalam diri manusia ada unsur emas-nya. Kecocokan atau kesesuaian antara sesuatu unsur yang ada di dalam diri manusia dengan yang ada di alam semesta inilah yang menimbulkan KEINGINAN, menggerakkan manusia untuk  melakukan sesuatu (Internal Motivation). Demikian juga dengan pikiran yang ada dalam diri manusia, memiliki keinginannya sendiri. Seperti penjelasan akan sesuatu, argumentasi, sesuatu yang masuk akal, pembelajaran, ceramah-ceramah, dan lain-lain. Ruhanipun memiliki keinginannya sendiri, seperti keinginan akan penghargaan diri, keinginan untuk disukai, keinginan untuk diterima dengan tulus, dll. Semua keinginan itulah,  yang MENGGERAKKAN manusia untuk melakukan sesuatu. Baik keinginan jasmani, keinginan akal pikir maupun keinginan ruhani itulah yang menimbulkan Internal Motivasi pada diri seseorang untuk berbuat sesuatu.

Jasmani memiliki bagian-bagian yang berlapis-lapis seperti lapisan awan dilangit. Ada bulu, daging, darah, otot, tulang dan lain sebagainya. Alam pikirpun memiliki lapisan-lapisan yang dapat dikatakan tidak terbatas, ada persepsi, logika, intuisi, firasat, bawah sadar, alam alfa, alam beta, alam gama, alam teta, dan lapisan itu masih terus masuk ke dalam. Ketika semakin dalam masuk ke area ruhani, maka ruhanipun berlapis-lapis. Jika diibaratkan lapisan-lapisan itu dengan cahaya, maka ada puluhan ribu, ratusan ribu dan tak terhingga lapisan-lapisan cahanya. Jika semakin masuk lebih ke dalam lagi, maka masuklah kita ke area ketuhanan yang menjadi  rahasia dari diri manusia.

Potesi jasmani manusia memang terbatas, potensi akal pikir sudah hampir tak berhingga sedangkan potensi ruhani manusia tidaklah terbatas. Bukankah ilmuwan-ilmuwan sudah meneliti, berapa persenkah dari kemampuan otak Einstein, ilmuwan besar dunia yang sampai sekarang masih belum ditemukan tandingannya, itu digunakan? Berapa persenkah kemampuan otaknya yang sudah digunakan? Mereka menyimpulkan bahwa penggunaan otak Einstein barulah menggunakan tidak sampai 3% dari kemampuan otak sesungguhnya. Belumlah ini berbicara tentang potensi dari ruhani manusia.

Oleh sebab itu, maka perlulah manusia memperhatikan KEINGINANnya yang MENGGERAKKAN dirinya untuk berbuat sesuatu, agar membawa manfaat bagi dirinya, bagi fisik jasmaninya, bagi akal pikirnya, terutama adalah bagi ruhaninya. Sebab geraknya diri untuk memenuhi kebutuhan fisik jasmani, akal pikir dan ruhani manusia ini merupakan modal awal manusia untuk  dapat meraih cita-citanya. Baik cita-cita fisik jasmani yaitu cita-cita di dunia ini, maupun cita-cita akal pikirnya dan juga cita-cita ruhaninya. Potensi-potensi manusia akan dapat tereksplor semuanya jika fokus pandangan kita tidak hanya menuju pada pembelajaran jasmani saja melainkan pembelajaran akal pikir dan juga pembelajaran ruhani. Inilah yang akan memunculkan potensi manusia yang unlimited, tak terbatas sehingga dapat melaksanakan tugas keberadaannya sebagai manusia.

 


 

“…maka berbicaralah dengan jiwa…”

Oleh : Edi Setiawan

Film-Rio-2-2

Umumnya orang menganggap bahwa yang disebut berbicara atau berkomunikasi itu hanyalah melalui pembicaraan lisan atau pembicaraan verbal, padahal di dalam penelitian ditemukan bahwa saat kita berkomunikasi, penggunaan bahasa verbal lisan maupun tulisan, itu hanya memakan porsi tidak lebih dari 20%, kata-kata atau ucapan hanya sekitar 7%, dan mayoritas, lebih dari 80% adalah bahasa non verbal atau yang sering disebut sebagai bahasa isyarat, atau bahasa tubuh seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh, cara berjalan, cara duduk, dll.

Ini menjadi menarik ketika ternyata kemudian kita tahu bahwa kita tidak bisa berhenti untuk berkomunikasi dengan seseorang. Misalkan, anda bertemu dengan seseorang yang tidak anda senangi dan anda tidak mau berkomunikasi dengan orang tersebut. Maka ketika bertemu anda memilih diam, tidak mengucapkan sepatah katapun. Tetapi ekspresi wajah anda sudah mengkomunikasikan ketidaksukaan anda pada orang itu, diamnya anda juga sudah mengkomunikasikan bahwa anda malas berbicara dengan orang itu, gerak bahasa tubuh anda juga sudah mengkomunikasikan bahwa anda menghindar dari orang itu. Bagaimana mungkin komunikasi itu bisa dihindari?

Menarik sekali ketika ada seorang murid bertanya kepada pak Kyai,”Maaf pak Kyai, saya mau minta didoakan supaya hutang-hutang saya lunas”, kemudian pak Kyai diam saja dan simurid berbicara dalam hatinya,”Kok gak dijawab sih?!”..he.he., ketika kita sudah memahami tentang ilmu komunikasi, maka kitapun jadi memahami bahwa Bapak Kyai tersebut sudah menjawab muridnya, yaitu pertanyaan atau permohonan murid tersebut sudah dijawab dengan jawaban DIAM. Apakah maksud atau arti “DIAM”nya Bapak Kyai tersebut? Nah, itu baru kita bicara tentang Decoding atau istilah lainnya penguraian kode untuk memahami maksud dari orang yang menyampaikan pesan.

Komunikasi, secara umum dimulai jika ada seseorang ingin menyampaikan sesuatu informasi atau pesan kepada orang lain, kemudian si orang tersebut memilih untuk menggunakan symbol apa sebagai sarana penyampaiannya (encoding), apakah symbol melalui bahasa lisan, atau tulisan, atau symbol-simbol yang lain seperti gerakan tubuh, isyarat,dll, termasuk memilih menggunakan saluran komunikasi apa. Apakah mau pakai telpon, sms, surat tertulis, Koran, dll. Barulah kemudian symbol-simbol itu diterima oleh penerima pesan dan penerima pesan akan mencoba mengurai kembali (decoding). Penguraian kembali ini, jika tepat, maka penerima pesan bisa memahami maksud dari penyampai pesan. Jika tidak, maka akan ada perbedaan pemahaman antara yang menyampaikan dengan yang menerima pesan.

Manusia yang terdiri dari jasmani, akal pikir dan ruhani, sadar atau tidak di dalam berkomunikasi pastilah juga akan melibatkan ketiga hal ini meski porsi penggunaannya bisa bermacam-macam. Umumnya yang dominan dipakai adalah bahasa jasmani, mungkin juga sebagian memakai akal pikir dan sebagian lagi menggunakan jiwa. Disinilah kemudian timbul pemahaman, bahwa “barang siapa berbicara dengan jasmaninya, yang menerima juga akan jasmani. Barang siapa berbicara dengan pikirannya, yang menerima juga akan pikiran, dan barang siapa berbicara dengan ruhaninya, dengan jiwanya, yang menerima juga akan jiwanya”. Sebab masing-masing sudah memiliki frekuensinya sendiri-sendiri, masing-masing memiliki levelnya sendiri-sendiri.

Oleh sebab itu, karena sifat dasar jasmani itu mati, maka komunikasi yang hanya menggunakan jasmanipun tidak akan terlalu berbekas, dan karena akal pikir itu memiliki sifat hidup, maka komunikasi yang menggunakan akal pikir tentulah lebih berbekas. Apalagi jika berbicara dengan jiwa. Ruh adalah hidup, maka jika yang berkomunikasi adalah yang hidup, maka bekasnya pun akan tampak nyata.

 

            “…maka berbicaralah dengan jiwa…”